LPM Profesi UNM Diserang OTK, Diduga Akibat Berita: Alarm Memanggil untuk Seluruh Persma Indonesia 

Alam
Sabtu, 05 September 2020, 05:51 WIB Last Updated 2020-09-04T22:17:25Z

Redaksi Suara Kita memaknai hal ini sebagai alarm memanggil bagi seluruh Pers Mahasiswa (Persma) Indonesia untuk saling menjaga dan mengawal dari berbagai macam intimidasi dari lingkungan sekitar. Adalah bahwa yang dialami oleh LPM Profesi adalah bentuk pembungkaman demokrasi dan bentuk intimidasi. Sebagai Lembaga Pers, hal ini tak bisa dimaafkan, mesti diproses hukum. "Kami berharap pihak kepolisian dapat bekerja dengan baik sesuai proses hukum yang ada".

 Jendela Redaksi LPM Profesi pecah akibat dilempar batu oleh OTK. Sabtu, (5/9) - Sauki Profesi.

Kabinet Progresif yang dipimpin (Muhammad Aqsha, red) akan hampir berakhir. Masih banyak pekerjaan yang belum terlaksana tentu mendapat banyak respon miring. 


Konflik di internal kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) Universitas Negeri Makassar (UNM) disinyalir menjadi salah satu faktor. Memberikan catatan merah dalam perjalanannya sejak dilantik 19 September lalu. 


Perpecahan internal pengurus disinyalir menjadi pemicu bobroknya kepengurusan periode ini. Dimulai dari penarikan seluruh delegasi Fakultas Ekonomi dari BEM dan Maperwa UNM. Orang yang menarik diri ini, termasuk Menteri Sosial Politik BEM UNM, yang berakibat pada masa lowong dalam gerakan BEM UNM. 


Renggangnya kepengurusan pucuk pimpinan, pastinya dapat dirasa langsung oleh BEM fakultas lainnya. Termasuk Presiden BEM Fakultas Teknik (FT), Angga Prasetyo, menurutnya kinerja kepengurusan dirasa mengalami penurunan, mengingat di awal kepengurusun kinerja BEM Maperwa dirasa telah maksimal. 


“Untuk kinerja BEM UNM itu semenjak adanya perselisihan di internalnya mereka, kinerja-kinerja mulai tidak maksimal. Padahal di awal kepengurusan BEM Maperwa UNM itu sangat bagus progresnya,” jelasnya saat diwawancarai oleh Tim LPM Profesi UNM. Rabu (27/8). 


Simpul BEM Maperwa semakin renggang terasa hingga ke fakultas biru muda. Presiden BEM Psikologi Nur Vicky menuturkan, hadirnya pandemi yang diharapkan dapat memperkuat ikatan antar kepengurusan, justru semakin menjadikan BEM Maperwa makin diam. Serta memperlihatkan semakin menurunnya kemampuan kerja sama antar anggota BEM Maperwa. 


“Agak miris, selain dari pandemi mungkin ada masalah internal kepengurusan yang membuat kinerja BEM UNM sangat turun. Selain itu, kurangnya komunikasi serta kerja sama yang baik ditambah masalah eksternal yang mendukung untuk tidak aktif,” tutur mahasiswa angkatan 2017 ini. 


Menurut Vicky, BEM UNM sebagai representasi sembilan mata orange harusnya dapat menjadi contoh bagi lembaga kemahasiswaan lainnya.


Termasuk kondisi kepengurusan yang aktif dalam berbagai gerakan mengawal kebijakan. Namun hal ini terasa bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di lapangan, Vicky merasa gerakan yang dilakukan oleh BEM Maperwa seakan hanya sebatas untuk memperlihatkan eksistensi belaka.


“Pengurus yang bisa hadir selama pandemi itu bisa dihitung jari. Kedepannya ada baiknya lebih memperhatikan kondisi kepengurusan sebelum melakukan pegawalan bersama. Bila hanya sekadar yang penting kita hadir tidak bisa begitu, harus memang diperbaiki, karena mereka juga representasi dari perwakilan semuanya,” katanya (24/8) lalu. 


Ketua Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertaqwa (LKIMB), Fandy, juga turut menyayangkan perpecahan yang terjadi di internal BEM-Maperwa UNM. 


Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial ini mengatakan, jika BEM Maperwa harusnya telah melakukan tindak lanjut akan permasalahan internal yang terjadi. Sehingga semakin dapat mempererat hubungan antar fakultas yang dipayungi. 


“Saya sayangkan sebenarnya Maperwa tidak terlalu dalam persatuannya. Banyak fakultas yang menarik delegasi dari Maperwa UNM, dan itu mesti jadi bahan evaluasi. Untuk BEM juga agar menyatukan internal, dan jangan mudah dipecah,” jelasnya (31/8). 


Mengkonfirmasi permasalahan ini, Miqhiyal Akbar, Ketua Komisi Konstitusi yang tengah dimandatkan sebagai Ketua Maperwa mengakui adanya permasalahan internal yakni menariknya beberapa delegasi fakultas. Namun, ia belum bisa menjelaskan alasan adanya penarikan diri tersebut. 


Lebih lanjut, dia membenarkan penarikan diri ini, memberikan dampak pada jalanya kepengurusan Maperwa, “Memang ada yang sampai mengundurkan diri. Saya belum bisa sampaikan apa alasannya mereka mengundurkan diri. Itu pasti ada pengaruhnya, karena kita kekurangan SDM di dalam,” ungkapnya (31/8). 


Hingga berita ini diturunkan, baik pihak Presiden BEM ataupun Ketua Maperwa masih belum memberikan tanggapan, terkait berbagai permasalahan yang telah dialami oleh lembaga tingkat universitas ini. 


Meski telah beberapa kali dihubungi oleh Kru Profesi. Meski harusnya bulan ini masa kepengurusan telah berakhir, namun ditunda untuk melaksanakan pleno 16 - 17 September mendatang. 


Langgar Konstitusi Hingga Diduga Korupsi


Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dinahkodai Syahrul Ramadhan menyisakan sejumlah kasus selama satu periode. 


Kini masa periode tersebut akan berakhir. Tepat pada 19 September nanti, kepengurusan ini sudah genap satu tahun pasca pelantikan. 


Sebagai representasi atau perwakilan mahasiswa di tingkat universitas, Maperwa berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan PULK, AD/ART, GBPK, dan rekomendasi serta kebijakan lembaga Maperwa dan BEM. Namun sayang, lembaga ini sendiri yang melanggar konstitusinya. 


Rapat pleno, yang bertujuan untuk mengevaluasi kinerja lembaga kemahasiswaan tertinggi di universitas, tidak pernah terlaksana. Padahal, jika dihitung sejak pelantikan, periode kepengurusan ini kurang 15 hari genap satu tahun. 


Tetapi Rapat pleno tersebut tidak pernah terlaksana. Dandi, Ketua Maperwa FE, yang hanya merupakan representasi mahasiswa di tingkat fakultas sangat menyayangkan keteledoran atasannya yang berada di tingkat universitas.


“Sangat disayangkan, karena evaluasi itu penting. Padahal, pleno merupakan salah satu amanat konstitusinya teman-teman itu sendiri, walaupun realitanya tidak terlaksana sebagaimana mestinya,” katanya. 


Sementara itu, Miqhiyal Akbar sebagai Ketua Komisi Konstitusi Maperwa UNM, mengatakan harusnya lembaganya melaksanakan pleno sebanyak tiga kali dalam satu periode. Namun, ia beralasan karena adanya pandemi Covid-19, sehingga forum evaluasi tersebut tidak dilaksanakan. 


Apalagi, saat pandemi, banyak pengurus yang pulang kampung termasuk Syahrul Ramadhan yang menjabat sebagai ketua umum saat ini berada di kampung. Sehingga mereka kesulitan mengakses jaringan. Padahal, pandemi terjadi setelah kepengurusan berjalan setengah periode. 


“Rencana kita akan laksanakan pleno tanggal 16-17 September ini. Kita masih akan bicarakan bagaimana agar tidak melanggar konstitusi,” katanya (31/8).


Selain melanggar konstitusi, pada awal kepengurusan, Ketua Maperwa diduga menggelapkan dana lembaga kemahasiswaan. 


Diduga, karena itu, lembaga kemahasiswaan di Fakultas Ekonomi menarik seluruh delegasinya pada 2 Desember tahun lalu. Padahal saat itu, Maperwa baru berjalan dua bulan lebih atau lebih tepatnya 73 hari setelah dilantik.


“Iye, kami menarik diri,” kata Ketua Maperwa FE, Dandi saat dihubungi, Selasa (1/9). 


Dandi merasa, sejak hari itu, pihaknya sudah tidak sejalan lagi dengan Maperwa UNM, sehingga menarik semua delegasinya di Maperwa. 


“Alasannya karena LK UNM tidak sesuai harapannya dengan Ekonomi,” ucapnya. 


Saat reporter Profesi mengkonfirmasi terkait dugaan penyelewengan dana tersebut, Dandi tidak mengiyakan, juga tidak mengatakan sebaliknya. Ia enggan berkomentar banyak. 


“No komen kalau itu,” ujarnya (1/9). 


Menanggapi hal tersebut, Miqhiyal Akbar yang juga menjabat sebagai PJs Ketua Umum Maperwa UNM saat ini, mengakui bahwa ia kehilangan pengurus. Hal tersebut membuat kinerja tidak berjalan dengan maksimal. 


Namun ia enggan membeberkan banyak hal. “Memang ada yang mengundurkan diri. Saya belum bisa sampaikan apa alasannya mereka mengundurkan diri,” kilahnya. 


Reporter Profesi telah mencoba menghubungi Ketua Maperwa UNM, Syahrul Ramadhan, tetapi tidak direspon. Pun saat dihubungi via Whatsapp, juga tidak dibalas [Telah terbit di Tabloid Profesi/242 September].


Diduga Akibat Pemberitaan Hingga LPM Diserang OTK


Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profsesi Universitas Negeri Makassar (UNM) diserang orang tak dikenal (OTK), yang bertempat di Jalan Mallengkeri Luar No 25 Kota Makassar. Kejadian tersebut sekitar pukul, 12.30 Wita, Sabtu (5/9). Dua kaca redaksi rusak akibat hantaman batu. 


Pimpinan Umum LPM Profesi UNMmenduga diduga akibat pemberitaan tabloid Profesi edisi 242. 


Namun hingga saat ini, Profesi masih melakukan penelusuran lebih lanjut, “Tadi pagi saya sempat ditanya teman untuk hati-hati. Saya juga katanya dicari. Informasinya karena tidak terima dengan pemberitaan kami,” kata Muh Sauki Maulana. 


Sauki akan melaporkan kasus penyerangan itu ke pihak kepolisian. Barang bukti pelemparan telah diamankan untuk menguatkan laporannya. 


"Kami akan bertindak tegas, bukti batu yang dilempar masih kita simpan. Ini bukti kuat,” tandasnya. 


Ia juga masih menunggu itikad baik dari oknum yang melakukan pelemparan. Jika tidak, kasus ini akan diselesaikan secara hukum.


“Saya belum mau sebut siapa dulu, tapi kami sudah punya info. Kami tunggu di redaksi untuk minta maaf agar masalah ini tidak usah diperpanjang,” tegas dia melalui halaman Profesi UNM. 


Kejadian ini diduga karena pemberitaan yang dimuat di Tabloid LPM Profesi Edisi 242, yang terbit pada Rabu (2/9/2020) lalu. 


Bukan tanpa alasan. Pemimpin Umum LPM Profesi UNM, Muh Sauki Maulana sempat ditegur oleh salah satu fungsionaris lembaga kemahasiswaan, sehari (3/9/2020) setelah berita itu diterbitkan.


“Ada kabar di grup lembaga kemahasiswaan, kalau ada pihak tidak terima dengan berita yang kami tayangkan di tabloid,” aku Sauki. Tak cuma mengingatkan, Sauki juga mengaku, rekannya itu meminta kepadanya untuk berhati-hati. 


“Hati-hati ko saja,” kata Sauki mengutip pernyataan koleganya tersebut. 


Yang mengcengangkan, Sauki sempat ditelepon oleh OTK sekitar 15 menit sebelum peristiwa penyerangan. 


“Tadi tiba-tiba ada yang kabari kalau ada orang yang mau datang ke Profesi. Sekitar 15 menit kemudian, kami yang sedang mengerjakan tugas kelembagaan, tiba-tiba dikagetkan dengan lemparan batu yang membuat kaca jendela redaksi kami pecah,” urainya. 


Saat ini, kasus penyerangan OTK telah diproses pihak kepolisian. Surat aduan itu ditangani oleh Polsek Tamalate dengan nomor aduan 823/IX/2020/Polsek Tamalate. 


“Secepatnya polisi akan menangani kasus ini. Nanti pagi mau datang ke redaksi untuk penyelidikan. Barang buktinya juga masih ada,” katanya. 


Kronologi Penyerangan LPM Profesi


Redaksi LPM Profesi UNM diserang orang tak dikenal (OTK) pada hari Sabtu (5/9) pukul 12.30 Wita dini hari.


Saat diserang, pagar dan pintu redaksi telah tertutup. Dalam ruangan, beberapa orang sudah tidur, dan pengurus lainnya sedang mengerjakan tugas laporan kepanitiaan.


Tiba-tiba, suara "brakkkk" terdengar. Dua buah batu menembus jendela kaca masuk ke dalam redaksi. Hampir saja batu itu mengenai pengurus yang sedang tidur.

Batu dan pecahan kaca berhamburan di lantai Redaksi LPM, Sabtu, (5/9) - Sauki.

Kaca berhamburan. Pengurus yang sedang mengerjakan laporan kepanitiaan tiba-tiba kaget dan keluar melihat apa yang terjadi. OTK yang melempar batu itu sudah tidak ada. Mereka kabur.


Pengurus kemudian berkumpul, dan mengecek situasi di luar redaksi. Warga yang berada di sekitar redaksi datang dan melihat langsung di lokasi.


Tidak berselang beberapa waktu, Pemimpin Umum LPM Profesi UNM, Muh Sauki Maulana, langsung ke kantor Polisi Sektor Tamalate untuk melaporkan kejadian ini. Sementara warga masih berjaga-jaga di lokasi. | 

Komentar

Tampilkan

Berita Terkini